Sumber: diikuti.blogspot.com

Ayah menaruh potongan ikan di piringku sambil berkata, “Yang banyak makannya, La. Ikan bisa bikin pinter katanya.”
Aku mengangguk dan menghabiskan sarapanku.
Ayah bukan bapakku. Maksudku, Ayah bukan Bapak. Bapak adalah orang yang mengajariku bersepeda, dan kadang-kadang menyelipkan permen-permen manis di tanganku sepulang bertemu dokter gigi ketika Ibu tidak melihat. Bapak baik– tidak seperti Ibu yang selalu memarahiku karena malas belajar. Saat aku kelas 3 SD, Bapak meninggal. Tante Adel bilang, Bapak sudah lama sakit. Aku marah pada Ibu karena Ibu tidak pernah membawa Bapak ke rumah sakit. Ibu tidak berkata apa-apa dan tetap sibuk bekerja seperti dulu. Aku tidak suka Ibu.

Aku dan Ibu jarang berbicara. Tapi, suatu hari, Ibu membuka pintu kamarku dan memanggilku untuk bertemu seseorang di ruang tamu. Tamu itu seorang laki-laki tinggi yang sering tersenyum. Dia menyebut namanya– Om Wahyu. Lalu, Ibu berkata bahwa sebentar lagi aku harus memanggil Om Wahyu dengan sebutan Ayah. Sebelum pulang, Om Wahyu memberiku bunga mawar yang terbuat dari kertas. Di kamar, aku berlatih mengucapkan kata itu– Ayah, Ayah.

Sebulan kemudian, Ayah dan Ibu menikah. Ayah juga baik. Ayah tidak pernah menyelipkan permen-permen manis di tanganku seperti Bapak, tapi Ayah sering memasak makanan yang enak dan hangat untuk kami. Ayah menemaniku belajar setiap malam dan sesekali aku menemani Ayah menonton sepakbola di televisi. Beberapa kali, saat aku tidak bisa tidur dan mengintipi kamar mereka, aku melihat Ayah memeluk Ibu di atas tempat tidur. Namun yang lebih seringnya adalah aku melihat Ayah dan Ibu bertengkar. Ibu berbicara dengan suara tinggi pada Ayah. Jadi, ketika beberapa hari yang lalu Ayah berkata bahwa Ibu akhirnya pergi dari rumah, aku senang, karena aku tidak suka Ibu.
Hari ini, sepulang sekolah, aku mandi lalu menunggu Ayah pulang sambil menonton televisi. Tidak lama kemudian, Ayah datang dengan senyum lebar.

“Lala, Ibu akan kembali.” Kata Ayah sambil memelukku. “Ibu mengirim sangat banyak kertas dari Jepang. Ibu bilang, Ayah harus membuatkannya seribu bunga mawar dari kertas lalu Ibu akan kembali ke rumah.”

Ayah memperlihatkan sebuah kotak berwarna cokelat yang katanya dikirim Ibu dari Jepang. Aku membuka kotak itu. Ibu mengirimkan sangat banyak kertas– seribu lembar kertas origami, sesuai jumlah yang disebutkan Ayah tadi. Kertas origami itu mengilap dengan banyak jenis warna yang berbeda-beda. Aku tidak pernah melihat kertas origami sebagus itu.

Ayah melipat kertas-kertas origami itu agar bentuknya mirip bunga mawar. Ayah melakukannya setiap malam. Setelah belajar, aku masuk ke kamar Ayah dan membantunya membuat bunga-bunga mawar dari kertas. Aku tidak berharap Ibu kembali, tapi aku senang melihat bunga-bunga mawar itu dan teringat satu yang dibuatkan Ayah untukku di hari pertama kami bertemu. Biasanya, pada pukul sepuluh, aku kembali ke kamar untuk tidur, sementara Ayah terus melipat kertas.

Seminggu kemudian, Ayah mulai menghitung bunga mawar.
“Sudah delapan ratus tujuh puluh dua.” Kata Ayah lalu melanjutkan melipat kertas.
Dua hari setelahnya, Ayah menghitung kembali bunga mawar.
“Sembilan ratus enam puluh empat, Lala.” Ayah menarikku dan mendudukkanku di pangkuannya. “Kita selesaikan ini besok, bagaimana?”

Besoknya, seperti biasa, aku pulang ke rumah lebih cepat dari Ayah. Ayah selalu pulang pukul lima sore. Aku masuk ke kamar Ayah. Kotak berwarna cokelat itu ada di atas meja. Aku duduk di atas kursi dan membuka kotak. Masih ada banyak kertas origami, meski tidak sebanyak kemarin.
Aku mengambil satu.
Kotak itu kututup kembali dan aku berlari menuju halaman belakang. Di sana, ada sumur yang sudah lama tidak dipakai. Aku menengok ke dalam sumur dan tidak melihat apa-apa selain gelap. Lalu, aku menggumpalkan kertas tersebut menjadi bola dan melemparkannya ke dalam sumur.

Tidak lama kemudian, ketika aku masuk ke kamar untuk merapikan tas dan buku-bukuku, Ayah pulang.
Aku mandi lalu belajar. Soal matematikanya tidak terlalu susah. Ayah sudah mengajarkan padaku bagaimana cara mengerjakannya. Ayah membuatkanku segelas susu cokelat dan meletakkannya di atas meja belajarku, lalu masuk ke kamarnya. Aku akan meminum susu itu setelah belajar, kemudian membantu Ayah melipat kertas-kertas origami dan melihatnya menghitung mereka.
Tapi, bunga mawar kertas milik Ayah tak akan pernah cukup seribu.

Makassar, 26 November 2016

Nur Inas Dzakiyah

Posting Komentar