"Mahasiswa adalah Man of Analysis," itu yang selalu dikatakan oleh salah seorang dosen yang pernah mengajar beberapa mata kuliah di kelas penulis.

     Statement tersebut selalu dilontarkan beliau hampir di setiap pertemuan mengajarnya. Sampai-sampai, teman-teman pun menjulukinya sebagai 'Bapak Man of Analysis'. Dasar maba ndeso! 

     'Mahasiswa sebagai Man of Analysis' memang sebuah statement yang unik dan menarik. Apalagi di telinga kami yang waktu itu masih tergolong maba-maba ndeso. 

     Siswa beralih menjadi mahasiswa  hanya terlihat dari status luar kami. Padahal kami adalah Maba ndeso yang belum bisa sepenuhnya move on dari jati diri seorang siswa pendidikan menengah dengan segala kenyamanan menjalani gaya hidup pragmatis menuju jati diri seorang mahasiswa yang ternyata harus berkali-kali lipat lebih kuat, dan lebih smart me-manage waktu. Karena, ternyata dunia ini bukan hanya tentang diri kita seorang. 

     Waktu demi waktu begitu cepat berlalu menggilas mahasiswa bermental siswa ini. Ada yang menafsirkan bahwa man and miss of analysis itu adalah yang bisa menganalisis materi perkuliahan yang diberikan. Prestasi akademik pun menjadi prioritas tertinggi dalam hidupnya. Ada pula yang cukup smart menganggap analisis yang dimaksud, yaitu terkait permasalahan sosial yang terjadi di tengah-tengah umat manusia. Mahasiswa ini pun akhirnya memutuskan bergabung dalam sebuah himpunan aktivis kampus. Merasa bahwa dia telah mememukan jalan untuk move on dari mental siswa menuju mental mahasiswa.

     Sementara diri penulis, bahkan di semester sembilan perkuliahan ini, arti analisis pun tak dapat penulis mengerti. Saking tak pekanya, selama empat tahun ini penulis bahkan tak menyadari bahwa arti analisis yang sesungguhnya ada di 'rumah' penulis sendiri.  Rumah yang selama ini tidak disadari oleh penulis bahwa dirinya ternyata tempat berlindung yang tepat. Bukankah penyesalan memang selalu datang belakangan? 

     Jadi begini, penulis memutuskan untuk bergabung ke dalam sebuah Komunitas Islam kampus. Komunitas ini pun penulis anggap sebagai sekolah ke-dua penulis setelah perkuliahan. Tetapi, tiga tahun kemudian, sampailah penulis pada poin yang menggugah kesadaran penulia, bahwa sedari dulu memang ada yang berbeda dari komunitas belajar ini. 

     Komunitas ini tidak sama dengan sekolah tempat belajar pada umumnya. Tapi, ia merupakan rumah sekaligus tempat belajar. Sekolah mengajari kita ilmu untuk persiapan bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan. Tapi, komunitas ini merawat dan membina mahasiswa bermental siswa ini agar dapat menjadi seorang pelopor kebangkitan sebuah peradaban mulia. 

     Karena kehidupan ini tak selamanya tentang materi. Semenjak itu penulis memahami bahwa ternyata Islam adalah agama sekaligus ideologi yang dapat diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Dan seseorang menjalani kehidupan ini berdasarkan ideologinya. 

      Alangkah baiknya jika kita flashback lagi ke empat tahun yang lalu. Para maba dikader oleh senior himpunan masing-masing jurusan. Kita ditanyai apa itu mahasiswa, apa bedanya dengan siswa, dan apa bedanya dengan hewan. Kita juga dijelaskan mengenai individu dan masyarakat.  Bahwasanya, individu dan masyarakat adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Individu-individu adalah pembentuk masyarakat dan masyarakat sangat mempengaruhi pembentukan individu. 

     Di komunitas tempat penulis belajar, Islam pun diajarkan tentang hal itu. Hanya ada sedikit perbedaan tentang bagaimana mereka memandang kehidupan bermasyarakat. Perbedaan yang ternyata membuat mereka tersesat begitu jauh dari pandangan hidup yang sesuai dengan rasio. Karena komponen masyarakat ternyata bukan hanya individu. Tapi sebuah masyarakat terbentuk dari individu yang saling terikat oleh pemikiran, perasaan, dan aturan.

     Himpunan ini juga menceritakan apa yang terjadi sehari sebelum hari H mereka akan demonstrasi terkait kebijakan pemerintah yang sangat tak bijak. 

    "Kalian tau, kalau semalam sebelum demonstrasi, itu sekret udah kayak pabrik tau nggak?! Karena kita bikin busur banyak-banyak," ucap salah seorang anggota himpunan jurusan. 

     Jelas, cara demonstrasi seperti ini tidak akan mewujudkan kebangkitan sebuah peradaban mulia. Terlebih niat mereka berdemonstrasi memang tidak ke arah situ. Mereka tak mengusung perubahan mendasar untuk tercipta kebangkitan peradaban .

     Kebangkitan seorang manusia ditentukan oleh cara berpikirnya yang menyeluruh dan sempurna terhadap apa saja yang ada dibalik alam semesta, manusia, dan kehidupan serta keterkaitan antara apa saja yang ada sebelum dan setelah alam semesta, manusia, dan kehidupan ini. Dari cara berpikir inilah terbentuk sebuah pemahaman. Pemahaman akan menentukan bagaimana seorang manusia bertingkah laku. Karena pemikiran menyeluruh dan sempurna akan melahirkan landasan berpikir (qaidah fikriyah). Dari landasan ini akhirnya terbangun kepemimpinan berpikir (qiyadah fikriyah) yang dapat membuatnya berpikir bagaimana bertindak untuk mewujudkan tujuan hidup yang telah diyakininya. Kepemimpinan berpikir ini disebut sebagai ideologi. 

     Hanya saja, mahasiswa aktivis perubahan ini tak memahami Islam sebagai satu-satunya ideologi yang memuaskan akal, sesuai fitrah manusia, dan menentramkan hati. Mereka mengenal Islam hanya sebatas agama warisan dari orang tua mereka. Tidak dijadikan sebagai landasan dan kepemimpinan mereka dalam berpikir.

     Walhasil, mereka pun menjadikan ideologi lain sebagai kepemimpinan berpikir. Ideologi lain ini dibuat oleh manusia yang bisa saja memperturutkan hawa nafsunya. Di samping itu, aturan hidup yang dibuat oleh manusia akan menimbulkan perselisihan pendapat  ditengah-tengah manusia. Karena asas dari ideologi ini adalah sekulerisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Bahwa agama tak berhak mengatur sistem kehidupan.

     Ideologi ini pun terasa menjadikan demokrasi sebagai topeng untuk menutupi keburukannya. Menyatakan bahwa kekuasaan sepenuhnya berada di tangan rakyat. Namun rakyat yang katanya berkuasa ini malah disengsarakan oleh elit pemerintahan itu sendiri. Sumber Daya Alam yang seharusnya dapat dikelola untuk menghidupi rakyat justru dijual ke para pemilik modal. BUMN diswastanisasi kepada para pemilik modal sehingga kebutuhan rakyat harganya melambung tinggi. Dari sini tampak teasa bahwa asas yang digunakan negeri hanya berupa omong kosong belaka. Karena kekuasaan sepenuhnya berada di tangan para pemilik modal, bukan di tangan rakyat.

     Adapun Islam tidak menjadikan manusia sebagai pembuat hukum karena hukum sepenuhnya diatur oleh syara'. Dan seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa ketika yang membuat hukum adalah pencipta manusia, maka sudah pasti ideologi itu akan memuaskan akal, sesuai dengan fitrah, dan menenteramkan hati. Sehingga terbentuklah individu-individu yang saling terikat oleh pemikiran, perasaan, dan aturan dari Sang Pencipta manusia. Sebuah tatanan masyarakat di tengah kebangkitan sebuah peradaban. 

     Itulah jalan yang harus ditempuh oleh mahasiswa-mahasiswi aktivis perubahan. Yaitu harus menentukan terlebih dahulu landasan dan kepemimpinan berpikir yang benar untuk membawa umat manusia ke arah kebangkitan.

     Catatan ini dibuat atas keresahan dengan berbagai fakta jalanan yang berisi teriakan lantang umat manusia untuk kepengurusan urusan mereka yang tak diwujudkan. Berbagai macam tuntutan yang justru semakin berulang. Pelaku teriakan pun malah semakin banyak dari beragam kalangan. Namun, justru yang ku anggap sebagai solusi malah diindahkan. Islam yang ku yakini sebagai penyelesai masalah malah sekarang cenderung terdiskriminasi dengan lebel Radikal dan Intoleran. Padahal, negeri ini pun keluar dari lubang penjajahan fisik karena kontribusi manusia penganut Islam. Bukankah segala macam hal ada solusinya di dalam Islam sebagai seperangkat sistem aturan untuk seluruh manusia. Muslim ataupun Non-Muslim.

     Semoga bisa jadi pengajak untuk menganalisa kebenaran Islam sebagai landasan kepemimpinan berpikir. Jangan sampai miss analysis, yang malah menjadikan Islamophobia. Sehingga kebangkitan yang diharap semua insan bisa tercipta. Tentunya tanpa kekerasan.

Salam,
Mitra Rahayu
Mahasiswi Pendidikan Ekonomi UNM

Posting Komentar