Sambutan oleh Dwi Gusnindah sebagai wisudawan terbaik dalam Ramah Tamah Wisudawan(I) Program Sarjana Tahun Akademik tahun 2018-2019 FPsi UNM di Aula MTM FPsi UNM, Selasa (06/11).
Sumber: Dok. LPM Psikogenesis

Psikogenesis, Rabu (0711)-Dwi Gusnindah yang merupakan peraih Wisudawan Terbaik dalam Ramah Tamah Wisudawan(I) Program Sarjana Tahun Akademik 2018-2019 Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dilaksanakan di Aula Muh. Thayyeb Manrihu (MTM) FPsi UNM, Selasa (06/11), tidak hanya menyibukkan diri sebagai akademisi, tetapi turut aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi.

Mahasiswa yang akrab disapa Dwi ini mengaku bahwa keaktifannya berorganisasi dimulai saat menjadi pertukaran UNM-Universitas Negeri Semarang (Unnes) Tahun 2015-2016. Dari pertukaran tersebut, ia mulai merasa bahwa kuliah saja tidak cukup tetapi perlu dibarengi dengan mengikuti organisasi untuk menambah skill dan juga pengalaman. "Dan saat kembali ke UNM kemarin, saya mulai bergabung di BEM (baca: Badan Eksekutif Mahasiswa) dan alhamdulillah dikasih amanah menjadi bendahara BEM," ungkapnya.

Tidak puas dengan berkontribusi pada organisasi dalam lingkup FPsi UNM, Dwi mulai mencari kegiatan yang dapat ia lakukan di luar lingkup FPsi UNM. "Salah satunya itu saya mengajar kemudian ikut juga di Aliansi Remaja Independent dan alhamdulillah dikasih juga kepercayaan untuk menjadi bendahara disana," ujarnya.

Ia juga menuturkan bahwa organisasi atau kegiatan yang ia ikuti menjadi hiburan tersendiri ketika merasa lelah mengerjakan tugas kuliah maupun skripsi. Tidak hanya itu, ia juga menganggap bahwa organisasi tidak pernah mengganggu akademik. Dengan berorganisasi sambil berakademik, ia mengaku dapat mengenal orang banyak dan belajar mengatur waktu dengan baik. "Banyak orang pintar, tapi orang yang cerdas untuk atur jadwal itu tidak banyak. Dan itu bisa dipelajari dengan kita aktif di perkuliahan, aktif juga di organisasi," tuturnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa tidak ada mata kuliah yang sulit di FPsi UNM jika tidak melakukan prokrastinasi. Ia sendiri mengaku tidak luput dari prokrastinasi dalam mengerjakan skripsi. Namun, dukungan dan dorongan yang diperoleh dari orangtua dan saudaranya, menjadi motivasi untuk menyelesaikan studi dengan cepat. "Dan salah satu motivasinya juga, harus sering ke kampus. Kalau misalnya tidak ada mi kuliah, setidaknya datang mi ke perpustakaan. Karena kampus itu jadi motivasi terbesarki untuk cepat-cepat ki selesaikan," imbuhnya. (SI)

Posting Komentar