Agenda Presentasi Karya dalam Latihan Kepemimpinan (LK) Tingkat II dengan tema "Mahasiswa Memimpin: Ideologis dalam Bergerak" yang diselenggarakan oleh BEM Kema FPsi UNM di Gedung UPTD Dinas PMD Provinsi Sulawesi Selatan, Sabtu (21/09).
Sumber: Dok. LPM Psikogenesis

Psikogenesis, Sabtu (02/11)- Kementerian Pendidikan dan Pelatihan (Kemendiklat) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (Kema) Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengubah hasil kelulusan peserta Latihan Kepemimpinan (LK) tingkat II karena hasil tersebut dinilai sebagai kesalahan dari panitia. Hal tersebut disampaikan di dalam lanjutan Forum Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) LK II di Baruga Kemahasiswaan FPsi pada Kamis (30/10).


Awan Ilmiah selaku Ketua Panitia LK II mengungkapkan, setelah 9 dari 29 orang peserta yang awalnya dinyatakan tidak lulus, berubah menjadi 2 peserta yang tidak lulus. “Dari semua penilaian, hanya posttest yang diubah karena ada soal yang tidak tersampaikan oleh pemateri itu dihilangkan dan beberapa nomor ditambahkan bobot penilaiannya. Perubahan tersebut didasari oleh penyesuain video dokumentasi materi dan soal posttest,” ungkapnya.

Mahasiswa yang akrab disapa Awan ini menjelaskan bahwa secara keseluruhan, LK II sudah mencapai tahap keberhasilan 70%. Namun, masih banyak kekurangan yang terjadi di dalam pelaksanaannya dan disebabkan oleh beberapa faktor. “Nda sesuainya jalannya acara. Bahkan peserta tidak lulus karena kesalahan kami (baca: Panitia LK II) akibat kurangnya intervensi dari kami toh. Dan tidak bagus dalam mendesain suatu kegiatan,” jelasnya. 

Menanggapi perubahan tersebut, Muh. Nuurjaiz Baryoso selaku staf Kementerian Sosial Politik (Kemensospol) BEM FPsi sekaligus peserta LK II mengaku sedikit kecewa karena perubahan keputusan yang membuat panitia terkesan tidak konsisten. “Sudah terlanjur tersampaikan kepada masyarakat Kema terkait informasi kelulusan peserta LK II, dalam hal ini panitia tidak mengecek kembali secara lebih dalam lagi tentang indikator yang penting sebagai bagian dari penilaian, sehingga pengambilan keputusan kurang matang," tuturnya. 

Hal berbeda dituturkan oleh Askar selaku Sekertaris Komisi II Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (Maperwa) FPsi. Menurutnya, tindakan yang diambil oleh panitia itu sudah tepat karena sudah sepatutnya metode pre-post test itu mengukur peningkatan peserta. 

"Menurutku sangat penting ki benang merahnya antara materi yang diberikan ke peserta dengan pertanyaan pre-post testnya. Dan dengan penyesuaian video dokumentasi materi kurasa sangat tepat untuk mengobjektifkan ki penilaiannya," ungkapnya. (JU)

Posting Komentar