Kisah Para Perempuan yang Menjalani Peran Ganda

Membicarakan tentang perempuan tidak bisa lepas dari kerumitan, mulai dari peran ganda yang dijalani, hingga gejolak batin yang tak bisa dihindari. Peran ganda perempuan seringkali tidak main-main, semisal mereka yang berstatus sebagai mahasiswa sekaligus seorang istri dan ibu dalam satu waktu dituntut agar dapat membagi antara tugas akademik dan keluarga, keputusan untuk menjalani peran ganda bagi seorang mahasiswa bukanlah sebuah hal yang mudah.

Adalah Muthia El Gibthia, mahasiswi aktif Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Negeri Makassar (UNM) yang menjalani peran ganda sebagai seorang mahasiswi dan Ibu Rumah Tangga (IRT). Awal mulanya mahasiswi yang akrab disapa Muthia ini berniat ingin membahagiakan orang tuanya dengan menikahi pria pilihan mereka. Atas rencana tersebut, saat ia telah duduk di semester dua, sebutan istri pun telah ia sandang. Awalnya ia mengaku cukup sulit menyesuaikan diri dengan keadaan baru terutama saat  masa kehamilan pertama dimana waktu melahirkan bertepatan dengan ujian akhir semester. Namun, seiring berjalannya waktu ia pun mencoba untuk mebiasakan diri dengan keadaan yang ada.”Lama kelamaan jadi terbiasa. Kalo ada tugas langsung kerja supaya ndak jadi beban pikiran,” jelasnya.

Lebih jauh mahasiswi angkatan 2015 ini menjelaskan ia sangat sibuk dan cukup lelah mengerjakan semua tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswi, sekaligus menjalani peran mengurus suami dan anak, ditambah pekerjaan lain yang tak terduga. Selain itu dalam menjalankan perannya, ia harus melewati tujuh jam perjalanan antara Makassar dan Enrekang setiap dua bulan karena keharusan untuk kembali pada keluarga. ” Sampai di rumah ada anak dan suami yang harus diurus, berusaha hilangkan wajah-wajah lelah di depan suami, harapannya bisa menyenangkan hati suami tanpa merasa terbeban,” tuturnya.

Ibu satu orang anak ini manambahkan bahwa ia tidak merasa terbebani dalam mengerjakan tanggung jawabnya, dikarenakan dukungan dari orang-orang terdekat yang memberikan motivasi terkhusus dukungan yang berasal dari suami untuk tetap melanjutkan pendidikan. Meski tidak mudah untuk menjalani peran ganda ia menyusun jadwal dengan baik dan menyelesaikan tugas satu per satu. “Intinya saya berambisi jadi ibu dan istri yang baik di rumah, mahasiswi yang baik di kampus, jadi dua-duanya seimbang.” tutupnya.

Selain Muthia, ada Annur Asia Arsyani mahasiswi angkatan 2012 yang menikah saat masih menjadi mahasiswa di tahun 2016. Alasannya, karena menurut Icha dirinya sudah cukup siap untuk hal tersebut. "Memang di Psikologi kayak siap mi terima itu, karena ada Psikologi Keluarga begitu," paparnya.

Selanjutnya, ia kembali menjelaskan bahwa peran ganda yang ia jalani membuatnya cukup lelah dan mengharuskan ia meninggalkan atau mendelegasikan pekerjaan lain demi menyelesaikan pekerjaan yang dianggap sebagai prioritas utama. "Jadi kayak harus ki rela melepaskan dulu, karna ada yang tidak bisa dikerjakan secara bersamaan," jelasnya.

Ia pun menambahkan bahwa untuk menyiasati itu semua, harus dimulai dengan menyusun rencana jadwal dengan baik terkait hal-hal yang harus ia dilakukan, agar seluruh pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik pula. "Kalau ada teman ta bisa carikan ki jurnal, minta tolong sama dia, kalau bisa resume kan juga, butuh ki teman-teman yang bisa membantu hal seperti itu," tuturnya.

Selanjutnya, mahasiswi yang akrab disapa Ica ini pun mengatur jadwal makan dan tetap menjaga kesehatannya agar semua pekerjaan yang telah direncanakan dapat terealisasi dan tidak sia-sia. "Diliat juga kapasitas dirinya, bisa tidak kalau dia ambil peran ganda seperti itu," ungkapnya.

Sebagai mahasiswi yang memiliki anak, Ica berpendapat bahwa seluruh perempuan baik dalam segala pekerjaannya. Ia menjelaskan jika seorang perempuan nantinya akan memiliki dua pilihan, yakni bekerja domestik (di rumah) atau bekerja di ranah publik (luar rumah).

Dalam Psikologi sendiri, kebanyakan orang ingin keberadaannya diakui, sehingga jika seorang perempuan yang hanya bekerja di rumah bukan berarti tidak berhak diakui, melainkan fokus yang ia miliki memang berbeda. "Karena memang ada yang suka di ranah domestik, ada yang suka di ranah publik," pungkasnya.

Ica pun berharap bahwa untuk seluruh perempuan dimana pun ia berada dengan peran apa pun yang ia jalani saat ini untuk mulai mencari tahu apa sebenarnya yang ingin ia lakukan dan mulai mempelajari apa yang akan ia kerjakan nantinya. Sebab, seorang perempuan ialah pencipta peradaban, karena peradaban ke depan lahir dari rahim perempuan. "Perempuan perannya besar, dia akan jadi madrasah (baca: sekolah) pertama untuk anak-anaknya kelak," tandasnya.(NRL&TYM)

Tabloid Edisi XVIII, Februari 2018

Posting Komentar